Friday, 29 Mei 2026
"Don’t let the fear of losing be greater than the excitement of winning." – Robert Kiyosaki.
Indikator Ekonomi

Global Market
USA Kembali menyerang target militer Iran untuk kedua kalinya minggu ini serta Kuwait mengatakan pihaknya akan merespons terhadap ancaman rudal dan drone. Presiden Trump menghadapi dilema antara Iran yang menuntut akan keringanan finansial dan penghentian serangan, serta tekanan dari politisi Republik agar dia tidak menandatangani kesepakatan damai yang buruk.
Presiden Trump juga mengancam akan menyerang Oman bilamana negara tersebut menetapkan kondisi dan syarat bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Situasi belum jelas, namun informasi dari USA menyatakan bahwa USA dan Iran telah sepakat untuk genjatan senjata lebih lanjut, sambil terus melakukan proses negosiasi.
Data inflasi PCE USA periode April ada di level 3.8% YoY dan 0.4% MoM sedikit dibawah ekspektasi di 0.5%. Data GDP USA estimasi kedua di 1.6%, dibawah ekspektasi di 2.0%. Yield Tnotes 10 tahun mulai bergerak turun menyikapi perkembangan perundingan perang di Timur Tengah.
Salah satu Gubernur The Fed, Lisa Cook menyatakan bahwa data inflasi memperlihatkan pergerakan yang naik dan dia sudah mempersiapkan diri untuk mulai melakukan kenaikan suku bunga acuan.
Indonesia
Rupiah pada masa liburan kembali terdepresiasi dan mendekati level 17,789, harga minyak Brent melonjak di atas USD 98 setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz,. Israel juga mengancam akan mengintensifkan serangan terhadap Hezbollah, walau Iran mensyaratkan gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kondisi di Timur Tengah mendorong sentimen risk-off di pasar global, namun level yield obligasi 10 tahun masih mampu bertahan pada level 6.7% dimana kepemilikan asing pada Mei terjadi net capital outflow sebesar IDR 1.77 T dan selama Ytd terjadi net capital outflow sebesar IDR 13.50 T.
IHSG turun -1.23% di 6,130 dimana investor asing melakukan penjualan bersih senilai hamper IDR 1.6 Triliun dengan sektor yang paling melemah adalah industrials, consumer cyclicals, properties & real estate.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.