Wednesday, 1 July 2026
"Financial freedom is available to those who learn about it and work for it." – Robert Kiyosaki
Indikator Ekonomi

Global Market
Indeks Dollar (DXY) (30/06) naik +0.082 poin (+0.08%) di level 101.187, Dow Jones menguat +0.26%, S&P 500 menguat +0.79%, dan Nasdaq menguat +1.52%. Kenaikan ini didukung oleh reli saham produsen chip.
DXY naik dan harga UST mayoritas melemah dengan pelaku pasar mencerna hasil rilis data ekonomi AS yang beragam dan komentar hawkish dari pejabat Fed yaitu Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack yang bahwa mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan jika tekanan harga terus berlanjut.
Otoritas Jepang menahan diri untuk tidak melakukan intervensi di pasar mata uang hingga 26 Juni meskipun yen terus melemah terhadap dolar.
Menurut survei OMFIF, yuan Tiongkok semakin diminati sebagai alternatif dolar di kalangan pengelola cadangan pasar negara berkembang.
Pemerintah Korea Selatan mengumumkan mega proyek AI dan semikonduktor senilai KRW 800T dimana fokus utamanya adalah memperbesar produksi chip AI karena permintaan untuk data center AI semakin meledak di seluruh dunia.
Indonesia
IHSG (30/06) turun -3.05% di 5,643, dengan sektor yang paling melemah adalah basic materials, energy dan consumer cyclicals, dimana investor asing mencatatkan net capital outflow sebesar IDR 1.04 T. Dari dalam negeri, pasar akan mencermati rilis data S&P Global Manufacturing PMI Indonesia, inflasi, serta neraca perdagangan yang menjadi indikator kondisi ekonomi nasional.
USD/IDR (30/06) naik +40.00 poin ditutup di 17,880 dengan pelemahan Rupiah secara YtD 7.23%. Tekanan terhadap IDR muncul seiring penguatan USD di pasar global menjelang rilis data tenaga kerja Amerika periode Juni.
Fitch Ratings menyoroti korporasi Indonesia menghadapi risiko meningkat dari kenaikan harga BBM, suku bunga, dan pelemahan rupiah—terutama sektor konsumer seperti otomotif dan properti—meski sebagian besar masih memiliki ruang kredit yang memadai.
Pemerintah bersama dengan DPR, BI dan Dewan Ekonomi Nasional menggelar rapat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi ditengah ketidakpastian global, dimana Wamen Keuangan, Juda Agung menegaskan kondisi fiskal Indonesia masih kuat dengan defisit APBN hingga Mei sebesar 0.7% terhadap PDB.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.