Wednesday, March 04 2026
“Do not save what is left after spending; instead spend what is left after saving.” – Warren Buffet.
Indikator Ekonomi

Global Market
Market saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Jumat (13/3), mengakhiri pekan yang diwarnai oleh pergerakan harga minyak mentah yang tidak menentu dan mengguncang pasar saham, ketika investor menilai dampak perang di Iran terhadap pasokan minyak global.
Harga minyak Brent menembus $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022 setelah Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz. Meskipun data ekonomi lebih lemah, Federal Reserve Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada akhir pertemuan kebijakan moneter minggu depan. Dengan ancaman kenaikan harga minyak yang dapat semakin memicu inflasi, peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin menipis.
Saham-saham Eropa memperpanjang penurunan pada Jumat (13/3) dan mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut, karena konflik yang semakin memanas di Timur Tengah serta kekhawatiran inflasi melemahkan minat investor terhadap aset berisiko. Saham Asia melemah pada hari Jumat (13/3) karena harapan yang semakin menipis akan penyelesaian perang AS dan Israel dengan Iran membuat harga minyak tetap tinggi. Pada gilirannya membayangi pasar global dan memicu kekhawatiran inflasi.
Indonesia
IHSG ditutup melemah -3.05% ke level 7.137,2 1 dengan net sell asing sebesar 117,48 miliar untuk seluruh pasar, Dimana saham BMRI mengalami net sell sebesar 470,3 miliar, sedang saham BBRI mengalami net sell sebesar 133,7 miliar, serta saham BBNI mengalami net sell sebesar 178,2miliar.
Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menunjuk Frederica Widyasari Dewi sebagai ketua baru. Penunjukan ini dinilai positif karena memastikan kesinambungan kepemimpinan serta melanjutkan upaya reformasi pasar modal untuk menjawab kekhawatiran investor global.
Otoritas juga dijadwalkan merilis daftar konsentrasi pemegang sahambulan ini sebagai langkah peningkatan transparansi di pasar modal. Rupiah melemah 65 poin ke Rp16.958 per dolar AS pada Jumat (13/3), tertekan penguatan dolar setelah Iran menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup, memicu lonjakan harga minyak hingga sekitar USD100 per barel.
Dari domestik, pasar mencermati beban bunga utang pemerintah Rp99,8 triliun per Februari 2026 serta yield SBN 10 tahun di 6,52% (naik 55 bps YtD) yang berisiko menambah tekanan fiskal.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 21.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.