Wednesday, 8 April 2026
“No matter how bad a crisis gets, any sound investment will eventually pay off.” - Carlos Slim Helu.
Indikator Ekonomi

Global Market
Wall Street ditutup beragam pada Selasa (7/4/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 85,42 poin atau 0,18% menjadi 46.584,46, indeks S&P 500 menguat 5,02 poin atau 0,08% ke 6.616,85 dan indeks Nasdaq Composite menguat 21,51 poin atau 0,10% ke 22.017,85.
Situasi antara Donald Trump dan Iran saat ini masih berada dalam fase negosiasi yang alot dan penuh tekanan. Kedua pihak sama-sama bertahan pada kepentingannya dan belum menemukan titik sepakat.
Awalnya, ada batas waktu untuk mencapai kesepakatan. Namun, tenggat ini kembali diperpanjang sekitar dua minggu atas permintaan pihak mediator, yaitu Pakistan. Perpanjangan ini menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk solusi damai, meskipun prosesnya sulit.
Mayoritas bursa saham Asia ditutup menguat pada penutupan hari kemarin (07/4/2026), mencerminkan sentimen pasar yang cenderung positif di kawasan. Kenaikan ini dipimpin oleh penguatan signifikan pada TW Weighted Index sebesar 2,02%, diikuti oleh KOSPI dan Shenzhen Composite yang masing-masing naik 0,82% dan 0,80%. Sementara itu, pasar Jepang melalui TOPIX dan Nikkei 225 mencatat kenaikan terbatas, masing-masing 0,25% dan 0,03%.
Kondisi ini menunjukkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko dan potensi technical rebound, meskipun tetap perlu diwaspadai karena kenaikan masih berpotensi bersifat sementara di tengah ketidakpastian global.
Indonesia
IHSG menutup perdagangan hari kemarin di zona merah. Terlebih pelemahan IHSG menjadi yang paling dalam di Bursa Asia. IHSG ditutup di posisi 6.971 melemah 0,26% dibanding penutupan hari sebelumnya.
Saham–saham perindustrian, saham transportasi, dan saham konsumen primer jadi yang terlemah hari ini jatuh 2,63%, 1,35%, dan 0,99%.
Pelemahan IHSG ini seiring juga dengan pelemahan nilai tukar Rupiah dipasar spot yang ditutup terdepresiasi 0,33% di level terendah Rp17.095/US$, yang merupakan posisi penutupan terlemah dalam sejarah Indonesia.
Menanggapi kondisi ini, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bahwa BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki, dengan stabilitas Rupiah sebagai "prioritas utama" BI. Selain itu, otoritas juga membuka ruang untuk penyesuaian kebijakan suku bunga apabila tekanan terhadap Rupiah berlanjut. Pemerintah dan bank sentral juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, sehingga tekanan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 21.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.