Thursday, 9 April 2026
“Know what you own, and know why you own it.” — Peter Lynch.
Indikator Ekonomi

Global Market
Pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat tajam pada perdagangan Rabu, 8 April 2026 waktu setempat. Penguatan ini mencerminkan pulihnya minat risiko pelaku pasar, setelah sentimen global membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks Dow Jones melonjak 2,85% ke 47.909,92, sementara S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81 dan Nasdaq menguat 2,80% ke 22.635,00.
Trump menegaskan kesepakatan itu bergantung pada komitmen Iran untuk membuka jalur vital tersebut. Ia menyebut langkah ini sebagai upaya meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya memicu kekhawatiran pasar global.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran akan menghentikan operasi defensifnya. Ia juga menambahkan bahwa jalur aman di Selat Hormuz dapat dilakukan melalui koordinasi dengan militer Iran selama dua minggu ke depan.
Harga minyak mentah WTI anjlok lebih dari 16% ke level US$94,41 per barel. Penurunan tajam ini mencerminkan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Disisi lain penguatan signifikan terjadi di pasar Asia, Bursa Asia ditutup menguat pada 8 April 2026, didorong membaiknya sentimen risiko global. KOSPI naik 6,87%, Nikkei 225 5,39%, TOPIX 3,32%, Hang Seng 3,09%, Shanghai Composite 2,69%, dan S&P/ASX 200 2,55%. Kenaikan ini mencerminkan kembali pulihnya optimisme investor di kawasan.
Indonesia
IHSG pada Rabu, 8 April 2026, melonjak 4,42% ke 7.279,21, menandai rebound kuat setelah tekanan beruntun dan membawa indeks kembali mendekati level psikologis 7.300. Dari sisi aliran dana, penguatan ini juga didukung net foreign buy Rp 632,88 miliar, dengan akumulasi asing terbesar di saham BBNI, AADI, dan BRMS.
Kenaikan IHSG secara signifikan utamanya terjadi karena kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang memberikan sedikit harapan dan kepastian bagi para investor. Selain itu kebijakan penyedia layanan indeks FTSE untuk mempertahankan rating pasar saham Indonesia juga ikut memberikan kabar baik bagi investor.
Rupiah ditutup menguat namun masih bertengger di atas level Rp 17.000, atau menguat 0,55% dari sehari sebelumnya menjadi Rp 17.012 per dolar AS. Penguatan rupiah ini.
Penguatan ini diperkirakan masih bersifat sementara, terutama karena lebih dipengaruhi oleh meredanya tensi geopolitik global dan koreksi harga minyak.
Dengan kata lain, selama akar permasalahan pada sisi fiskal dan perdagangan belum dibenahi, tekanan terhadap rupiah berpotensi terus berlanjut.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 21.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.