Wednesday, 13 Mei 2026
"Risk comes from not knowing what you are doing." – Warren Buffet.
Indikator Ekonomi

Global Market
Optimisme atas harapan kesepakatan perdamaian akhirnya memudar seiring tidak ada kesepakatan antara Amerika dan Iran dalam negosiasi terakhir yang dilakukan. Pasar saham Amerika kembali ditutup melemah pada perdagangan kemarin, Selasa (12/05).
Departemen Tenaga Kerja Amerika melaporkan inflasi tahunan (year on year) naik menjadi 3,8% pada April, sedikit di atas perkiraan ekonom sebesar 3,7%, terutama dipicu lonjakan harga energi dan pangan. Investor mulai mencermati bahwa tingginya inflasi akan membuat Bank Sentral Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bursa saham Eropa juga kompak mengalami koreksi, setelah memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika dengan Iran. Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong kenaikan harga minyak di level tinggi. Sektor teknologi menjadi penyumbang pelemahan terbesar, karena dampak aksi jual yang cukup besar juga saham teknologi di bursa saham Amerika / Wall Street. Selain itu, ancaman inflasi akibat harga minyak tinggi juga meningkatkan ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pada tahun ini.
Mayoritas bursa saham di Asia ditutup koreksi pada penutupan bursa kemarin, Selasa (12/05). Setelah sebelumnya mengabaikan kekhawatiran konflik di Timur Tengah, hanya indeks Nikkei yang mengalami apresiasi sebesar +0,52%. Pasar mulai kembali mencermati memudarnya tercapainya kesepakatan damai, yang menyebabkan harga minyak kembali naik. Investor juga masih mencermati data inflasi Amerika.
Indonesia
Bursa Indeks Harga Saham Gabungan kembali ditutup melemah 0,68% ke level 6.858,90 kemarin, Selasa (12/05). MSCI akhirnya resmi mengumumkan bahwa enam saham emiten Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indeks dan tidak ada saham Indonesia yang masuk sebagai konstituen baru.
Pelemahan rupiah di level Rp 17.529 terjadi seiring tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang regional terhadap dolar Amerika. Demi menjaga stabilitas rupiah, selain intervensi BI di pasar valas, Menkeu Purbaya juga akan mengaktifkan instrument Bond Stabilization Fund.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.