Wednesday, 20 Mei 2026
"An investment in knowledge pays the best interest." – Benjamin Franklin.
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham global melemah pada perdagangan Selasa kemarin seiring lonjakan imbal hasil obligasi AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi akibat konflik Iran. Di sisi lain, harga minyak justru turun setelah muncul sinyal kemajuan negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa pembicaraan kedua negara menunjukkan kemajuan signifikan dan kedua pihak sama-sama ingin menghindari kelanjutan perang.
Indeks Dow Jones melemah 0,65% ke 49.363,88. Indeks S&P 500 melemah 0,67% ke 7.353,61 dan Nasdaq melemah 0,84% ke 25.870,71. Indeks saham global MSCI turun 0,59% menjadi 1.091,79. Sementara itu, bursa saham Eropa justru menguat tipis dengan indeks STOXX 600 naik 0,19%, melanjutkan pemulihan setelah sempat melemah akibat gejolak pasar obligasi pada akhir pekan lalu. Penguatan yield AS juga mendorong dolar AS menguat. DXY naik 0,34% ke 99,33, sementara euro turun 0,45% ke US$1,1602. Dolar juga menguat terhadap yen Jepang ke level 159,05 yen per dolar AS.
Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan NVIDIA Corporation yang dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat. Kinerja produsen chip AI terbesar dunia itu dipandang akan menjadi ujian penting bagi reli saham teknologi berbasis AI. Investor juga menunggu laporan keuangan sejumlah peritel besar termasuk Walmart.
Perekonomian Jepang mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari perkiraan di awal tahun ini. Hal ini memperkuat argumen bagi BOJ untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. PDB riil tumbuh 2,1% secara tahunan pada kuartal I 2026. Hasil ini melampaui prediksi ekonom yang memperkirakan tumbuh 1,7%, sekaligus menunjukkan akselerasi dari kuartal sebelumnya yang direvisi turun menjadi sebesar 0,8%.
Indonesia
IHSG kembali ditutup di zona merah pada hari keenam berturut-turut. IHSG melemah 3,46% atau terpangkas 228,56 poin ke level 6.370,67 pada penutupan kemarin. Melemahnya IHSG terjadi seiring dengan rumor yang beredar di antara pelaku pasar ihwal rencana pemerintah untuk mengatur ekspor komoditas lewat satu badan khusus bentukan negara.
Konsensus Bloomberg untuk RDG BI bulan ini menunjukkan median proyeksi BI Rate naik 25 basis poin (bps) ke 5%. Dari 40 orang ekonom yang disurvei berada di rentang proyeksi cukup sempit antara 4,75% hingga 5,25%. Sebanyak 25 orang ekonom memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga ke 5%, sementara sisanya memproyeksikan BI Rate tetap di 4,75%.
Kemenkeu melaporkan pemerintah telah menarik utang baru untuk membiayai kebutuhan APBN sebesar Rp305,5 triliun sampai April 2026. Angka itu tercatat 36,7% dari total target APBN sepanjang tahun ini yang sebesar Rp832,2 triliun. Selain penarikan utang baru, pemerintah juga melakukan pembiayaan non-utang, yakni sebesar Rp7 triliun atau 4,9% terhadap target APBN yang sebesar Rp143,1 triliun. Purbaya mengungkapkan, pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 2 triliun per hari untuk masuk ke pasar obligasi.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.