Selasa, 18 Agustus 2026
"Know what your own, and know why you on it." – Peter Lynch
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Senin, ketika investor menantikan laporan keuangan kuartalan sejumlah peritel besar untuk mencari gambaran mengenai kekuatan belanja konsumen Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak di tengah belum adanya kesepakatan antara AS-Iran turut menekan sentimen pasar.
Harga minyak berjangka ditutup naik lebih dari USD 2 per barel karena pesimisme investor terhadap upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan, Jumat, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserveakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan depan. Di sisi lain, pasar uang kini memperkirakan peluang sekitar 84% Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, berdasarkan data LSEG.
Yen menguat tipis terhadap dolar AS, Senin, meski data pertumbuhan ekonomi Jepang lebih lemah dari perkiraan. Penguatan yen terutama didorong berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.
Menurut FedWatch Tool CME Group, kontrak berjangka suku bunga the Fed menunjukkan probabilitas 66,9% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 September. Probabilitas tersebut meningkat dari 47,6% sebulan sebelumnya.
Indonesia
IHSG ditutup menguat 1,59% ke level 6.401,89, pada perdagangan hari Jumat 14 Agustus dengan didukung sentimen positif dari pidato Presiden Prabowo terkait RAPBN 2027 yang menargetkan defisit lebih rendah di 2,40% PDB serta optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026. Penguatan rupiah ke Rp17.827/US$ turut menopang sentimen pasar, sementara investor juga mencermati arah kebijakan fiskal dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi domestik.
Pada semester I-2026, perekonomian Indonesia tumbuh 5,45% secara tahunan (yoy) dan diperkirakan terus menguat hingga mencapai sekitar 5,6%-6,0% pada akhir 2026.
Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia 2027 tumbuh 6,0%, didukung kinerja ekonomi 2026 yang diperkirakan mencapai 5,6%-6,0% serta kebijakan fiskal untuk mendorong investasi, produktivitas, industrialisasi, dan hilirisasi.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.