Rabu, 19 Agustus 2026
"An investment in knowledge pays the best interest." – Benjamin Franklin
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa ekuitas Wall Street ditutup melemah, Selasa, dengan saham semi konduktor melemah 5%, Saham technologi Nvidia melemah 2,3% dan Micron melemah 7%. Ketidakpastian di Timur Tengah mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun, meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya pinjaman dan inflasi.
Dari AS nanti malam akan dibuka risalah pertemuan (Minutes of Meeting) komite federal pasar terbuka (FOMC) bulan lalu yang akan memberikan petunjuk apakah anggota FOMC yang berjumlah 12 orang terbelah dalam memandang outlook ekonomi AS. Empat dari lima anggota FOMC yang berasal dari bank regional pada pertemuan bulan lalu mengemukakan pendapat yang hawkish, sementara 7 anggota dari organik bank sentral AS dovish.
Bursa ekuitas Eropa melemah, Selasa, dan membawa indeks acuan STOXX 600 ke level terendah dalam lebih dari dua pekan. Investor menghadapi lonjakan imbal hasil obligasi, kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat, serta ketidakpastian geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump membantah adanya pembicaraan dengan Iran.
Menurut FedWatch Tool CME Group, kontrak berjangka suku bunga the Fed menunjukkan probabilitas 66,9% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 September. Probabilitas tersebut meningkat dari 47,6% sebulan sebelumnya.
Indonesia
IHSG ditutup menguat 0,75% ke level 6.449,83, terutama ditopang sektor energi yang naik 7,10%, dengan BYAN menjadi kontributor terbesar setelah menguat sekitar 20% di tengah sentimen akuisisi. BRMS dan EMAS juga turut menopang penguatan indeks.
Dari domestik, pasar masih mencermati hasil RDG Bank Indonesia pada 19 Agustus, dengan konsensus memperkirakan BI-Rate dipertahankan di 5,75%. Rilis ULN Indonesia kuartal II-2026 sebesar US$454,4 miliar serta arah kebijakan fiskal dalam RAPBN 2027 juga menjadi perhatian investor. Data DJPPR menunjukkan total incoming bid pada lelang SUN kemarin mencapai Rp84,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan lelang SUN sebelumnya tanggal 4 Agustus lalu yang mencapai Rp70,7 triliun. Dari seri yang ditawarkan, Pemerintah menetapkan total amount awarded sebesar Rp34,00 triliun, di atas target indikatif Rp 32,0 triliun.
Sentimen positif lainnya berasal dari RAPBN 2027. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 dengan pendekatan fiskal yang lebih disiplin. Pendapatan negara diproyeksikan tumbuh 6,8%, sementara belanja hanya 3,9%, sehingga defisit APBN ditargetkan turun ke 2,40% PDB dari sekitar 2,8%–2,85% pada 2025–2026.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.