Kamis, 20 Agustus 2026
"The individual investor should act consistently as an investor and not as a speculator." – Benjamin Graham
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona hijau, Rabu, setelah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkatkan selera investor terhadap aset berisiko. Penguatan juga didorong penguatan saham Moderna yang mengangkat sektor kesehatan. Saham Moderna menjadi sorotan utama setelah mengalami penguatan hampir 177%, mencatat reli terbesar dalam sejarah perusahaan sekaligus menjadi penguat terbesar di S&P 500.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent ditutup menguat karena perkembangan situasi di Timur Tengah masih belum jelas. Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran dan bersikeras bahwa Selat Hormuz terbuka, bertentangan dengan pernyataan Teheran yang menyebut jalur tersebut masih ditutup bagi pelayaran.
Bursa ekuitas Eropa melemah, Rabu, mendekati level terendah dalam hampir tiga pekan. Penguatan harga minyak serta kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi mengimbangi sentimen positif dari penurunan imbal hasil obligasi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan peningkatan dukungan likuiditas untuk surat utang berjangka panjang. Tekanan inflasi masih menjadi perhatian besar bagi Eropa yang sangat bergantung pada energi, sehingga prospek perekonomiannya turut tertekan.
Kekhawatiran akan membengkaknya utang negara mendorong kenaikan suku bunga dan mengguncang pasar saham global, termasuk bursa Asia. Yield obligasi bertahan di sekitar level tertinggi karena faktor tersebut. Jepang mencatat defisit perdagangan 634.5 miliar Yen pada Juli 2026, berbalik dari rata-rata historisnya yang mencatat surplus.
Indonesia
IHSG ditutup melemah 0.86% dilevel 6.394.12 dimana sektor basic industry menjadi penyebab pelemahan utama, dimana melemah sebesar 1,21%, sedangkan sektor infrastruktur mengalami penguatan sebesar 0,43%.
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi BI untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian dan gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Pada saat yang sama, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga inflasi agar berada dalam sasaran 2,5% 1% pada 2026 dan 2027.
BI juga terus memperluas berbagai kebijakan insentif untuk mendorong aliran masuk modal asing sekaligus memperkuat stabilitas rupiah. Selain itu, bank sentral berupaya meningkatkan likuiditas serta mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.