Selasa, 8 September 2026
"It’s worth reminding ourselves from time to time that gyrations in a stock price may tell us absolutely nothing about the prospects of the company involved." – Peter Lynch
Indikator Ekonomi

Global Market
Pasar saham AS dan obligasi AS tidak bergerak pada Senin (07/09) karena libur Labor Day. Indeks Dollar (DXY) juga ditutup tidak berubah di level 99.176. Pergerakan pasar global selanjutnya akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan The Fed, dengan perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan Jumat pekan ini.
Di pasar Asia, mata uang regional bergerak mayoritas menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, harga minyak Brent melanjutkan kenaikan dan ditutup mendekati level US$97 per barel, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ancaman Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta serangan baru terhadap fasilitas minyak Jazan milik Saudi Aramco menjadi sentimen yang mendorong kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Dari sisi geopolitik, AS meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran dengan mengusulkan agar isu ketidakpatuhan Teheran terhadap inspeksi nuklir dibawa ke Dewan Keamanan PBB. Di sisi lain, Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman terkait pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz akan segera tercapai. Perkembangan ini menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi stabilitas jalur perdagangan energi dan pergerakan harga minyak ke depan.
Indonesia
IHSG pada Senin (07/09) turun 0,25% ke level 6.619, dengan sektor financials, basic materials, dan technology menjadi sektor yang paling melemah. Di pasar saham Indonesia, asing mencatatkan net capital outflow sebesar Rp0,67 triliun, sehingga secara YtD net capital outflow mencapai Rp68,73 triliun. Hari ini, Kementerian Keuangan akan mengadakan lelang SBSN dengan target indikatif Rp10 triliun, yang menjadi salah satu perhatian investor di pasar domestik.
Pasar SBN bergerak beragam, dengan yield tenor 10 tahun turun 0,014% ke level 7,09%, sementara yield tenor 5 tahun naik 0,001% ke level 6,92%. Pergerakan SBN hari ini diperkirakan sideways menguat, dengan perhatian investor tertuju pada sentimen global dan rilis data inflasi AS yang dijadwalkan Jumat pekan ini. Di sisi domestik, pasar masih mencermati perkembangan inflasi Indonesia serta kondisi nilai tukar rupiah.
Rupiah pada Senin (07/09) ditutup tidak berubah di level 17.635 per dolar AS, dengan pelemahan secara YtD sebesar 5,76%. Pergerakan rupiah berlangsung di tengah mayoritas mata uang Asia yang menguat serta meningkatnya cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, naik US$1,2 miliar dari posisi akhir Juli sebesar US$145,3 miliar. Hari ini, USD/IDR diperkirakan bergerak dalam kisaran 17.600–17.750.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.