Jumat, 11 September 2026
"It’s worth reminding ourselves from time to time that gyrations in a stock price may tell us absolutely nothing about the prospects of the company involved." – Peter Lynch
Indikator Ekonomi

Global Market
Sentimen global kembali risk-off seiring eskalasi konflik AS-Iran yang meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi dan menjaga harga minyak di atas US$100/barel. DXY menguat 0,23% ke 99,048, sementara Dow Jones turun 0,60%, S&P 500 -0,58%, dan Nasdaq -0,65%. Tekanan juga terlihat di pasar obligasi, dengan yield UST 5Y naik 14,5 bps ke 4,76% dan 10Y naik 12,2 bps ke 4,96%.
Kenaikan harga minyak semakin memperkuat kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi bahwa suku bunga global dapat bertahan lebih tinggi. Pasar bahkan mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam meeting 15–16 September. ECB juga menaikkan suku bunga sebesar 25 bps, sementara ekspektasi kenaikan suku bunga BoE pada November turut meningkat, menunjukkan bahwa tekanan inflasi akibat energi menjadi perhatian utama bank sentral.
Fokus utama pasar hari ini tertuju pada rilis CPI AS Agustus yang diperkirakan berada di 3,40% YoY. Data yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperkuat USD dan mendorong yield Treasury lebih tinggi, sehingga menjaga tekanan pada aset berisiko. Selain CPI, perkembangan konflik Timur Tengah dan harga minyak tetap menjadi katalis utama yang dapat meningkatkan volatilitas pasar global.
Indonesia
Pasar domestik kembali berada dalam tekanan. IHSG turun 1,33% ke 6.589 dengan pelemahan terutama pada sektor infrastructure, transportation, dan energy. Investor asing mencatat net capital outflow Rp1,95 triliun pada 10 September, meskipun secara September masih membukukan net inflow Rp0,07 triliun. Secara YtD, foreign flow di pasar saham masih mencatat net outflow sebesar Rp70,72 triliun.
Di pasar valas, Rupiah melemah 30 poin ke Rp17.535 atau terdepresiasi 5,16% secara YtD. Tekanan datang dari penguatan USD, kenaikan yield global, serta harga Brent yang masih bertahan di atas US$100/barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. USD/IDR diperkirakan bergerak dalam kisaran 17.450–17.700 dengan bias menguat, sementara Rupiah berpotensi dibuka di sekitar 17.550–17.580.
Pasar SBN juga berpotensi bergerak sideways melemah di tengah tekanan global. Yield SBN 5Y naik 0,5 bps ke 6,91% dan 10Y naik 1,4 bps ke 7,10%, sementara CDS 5Y Indonesia meningkat 30 bps ke 82,675. Ke depan, sentimen domestik masih akan sangat dipengaruhi CPI AS, pergerakan yield Treasury, harga minyak, dan perkembangan konflik Timur Tengah, dengan ruang penguatan aset Rupiah yang masih terbatas selama tekanan eksternal berlanjut.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.