Senin, 14 September 2026
"Investing isn’t about beating others at their game. It’s about controlling yourself at your own game." – Benjamin Graham
Indikator Ekonomi

Global Market
Pada perdagangan Jumat kemarin (11/9) indeks di bursa Wall Street ditutup kompak menguat setelah harga minyak Crude oil turun kembali di bawah 100 dolar per barel. Sementara itu CME FedWatch tool yang mencermati langkah bank sentral AS Fed, menaikkan probabilitas sampai dengan 87% (sebelumnya di 69%) setelah dirilisnya data inflasi harga konsumen CPI (Consumer Price Index), dimana data CPI secara tahunan (yoy) tercatat di 3,4% dan secara bulanan (mom) di 0,4%. Dimana proyeksi dari survei kemungkinan Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Dow ditutup positif 0,98% di 52.573,29, sementara S&P500 naik 0,86% di 7.656,98 dan Nasdaq positif 0,96% di 26.333,04.
IMF (Dana Moneter Internasional) menyatakan bahwa ekonomi global mengatasi dampak perang di Timur Tengah lebih baik dari yang diharapkan. IMF memperkirakan PDB (produk domestik bruto) global masih tumbuh sekitar 3 persen pada 2026. Presiden Rusia menyampaikan bahwa BRICS menghasilkan lebih dari 40% GDP dunia pada KTT BRICS 2026 di India.
Pasar saham Eropa diperdagangkan menguat dan ditutup positif pada perdagangan Jumat (11/9). Data pertumbuhan ekonomi tahunan Inggris dirilis mencatatkan pertumbuhan di 1,6%.
Pasar saham Asia diperdagangkan kompak melemah dengan pelemahan terbesar oleh bursa saham Nikkei dan Kospi pada perdagangan hari Jumat (11/9), akibat lonjakan harga minyak mentah dan imbal hasil (yield) obligasi. Sementara itu kelompok Houthi melakukan penyerangan fasilitas energi Arab Saudi dan pelabuhan Mokha di laut Merah (80 km dari selat Bab el-Mandeb).
Indonesia
IHSG pada Jumat (11/09) ditutup turun 0,73% ke level 6.541,38 dengan sektor energi, material dasar, dan infrastruktur menjadi sektor yang negatif sedangkan hanya sektor kesehatan diperdagangkan positif. Nilai transaksi kemarin mencapai 14,74 triliun rupiah dengan volume perdagangan sebesar 30,47 miliar saham. Tekanan dari lonjakan harga minyak dan ekspektasi bank sentral AS akan kebijakan suku bunga di pertemuan minggu ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah terbatas pada perdagangan Jumat (11/9) dengan pasar spot rupiah ditutup di 17.600 per dolar AS. Rupiah masih dihadapkan pada risiko inflasi dan potensi kembali terjadinya foreign fund flow.
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bergerak beragam pada perdagangan Jumat kemarin (11/9) dengan yield tenor 10 tahun di level 7,13% . Kepemilikan asing pada surat berharga pemerintah Indonesia per 7 September 2026 berada di level 13,03%.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.