Jumat, 23 Oktober 2026
"It’s far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price." – Warren Buffett
Indikator Ekonomi

Global Market
Wall Street melemah pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Dow Jones turun tipis 0,02%, S&P 500 terkoreksi 1,21%, dan Nasdaq anjlok 2,60%. Tekanan terutama berasal dari saham teknologi dan semikonduktor akibat kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI dan prospek profitabilitas perusahaan teknologi.
Yield UST 10Y turun ke 4,955% dan DXY melemah ke 101,617. Brent dilaporkan naik ke US$111,64/barel, sedangkan Initial Jobless Claims AS turun menjadi 194 ribu, di bawah ekspektasi 200 ribu. Investor beralih ke aset aman di tengah tekanan saham, tetapi ketahanan pasar tenaga kerja dapat membuat The Fed berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Bursa Eropa mayoritas melemah. FTSE 100 turun 0,26% ke 10.725,03, CAC 40 terkoreksi 1,39% ke 7.811,26, DAX melemah 1,07% ke 25.371,75, dan Euro Stoxx 50 turun 1,96% ke 6.085,95. Yield obligasi pemerintah Prancis menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2002, dipicu ketidakpastian politik, kerusuhan sosial, dan kekhawatiran defisit anggaran.
Bursa Asia juga tertekan seiring pelemahan saham teknologi. Pasar saham China memasuki fase bear market, dengan kapitalisasi pasar menyusut sekitar US$2,4 triliun sejak puncaknya pada Mei. Sementara itu, serangan Houthi terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran pasokan energi setelah Aramco meminta karyawan mengevakuasi kantor pusatnya.
Indonesia Market
IHSG pada Kamis, 22 Oktober 2026, naik 1,12% ke sekitar 5.387,90, melanjutkan pemulihan setelah koreksi tajam pekan lalu. Namun, investor asing kembali mencatat net outflow saham Rp1,48 triliun, sehingga outflow Oktober mencapai Rp12,54 triliun dan YTD Rp93,58 triliun.
BEI berencana mengecualikan 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan kualitas indeks di tengah evaluasi MSCI. Saham terkait tetap diperdagangkan, tetapi penyesuaian dapat memicu perubahan komposisi indeks dan volatilitas jangka pendek.
Rupiah ditutup di Rp18.050/US$ berdasarkan Morning Market View BNI, melemah 45 poin. BI memberikan diskon premi hedging hingga 45% melalui instrumen DNDF untuk mendorong lindung nilai dan membantu menjaga stabilitas rupiah. Indonesia juga berencana menerbitkan Panda Bond hingga CNY10 miliar atau sekitar US$1,5 miliar untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan pemerintah.
Di pasar obligasi, yield SBN 5 tahun naik 3,3 bps ke 7,225%, sedangkan tenor 10 tahun turun 0,5 bps ke 7,392%. Kepemilikan asing SBN tercatat 13,02% per 21 Oktober, dengan outflow harian Rp3,66 triliun, tetapi arus dana masih positif Rp6,96 triliun selama Oktober dan Rp35,76 triliun YTD. Fokus pasar selanjutnya adalah stabilitas rupiah, arus dana asing, dampak reformasi HSC, dan perkembangan harga minyak serta risiko geopolitik.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.