Selasa, 03 November 2026
"Investing isn’t about beating others at their game. It’s about controlling yourself at your own game." – Benjamin Graham
Indikator Ekonomi

Global Market
Pada perdagangan Senin kemarin (2/11) bursa Amerika ditutup bervariasi, dengan indeks Dow ditutup positif 0,42%, indeks S&P500 turun 0,5% dan indeks Nasdaq melemah 1,07%. Aktivitas manufaktur AS meningkat pada bulan Oktober, didukung oleh pertumbuhan produksi terkuat dalam hampir lima tahun. Jumlah tenaga kerja bertambah selama empat bulan berturut-turut, periode pertumbuhan terpanjang sejak awal tahun 2022. Sementara itu Indeks dolar (DXY) melemah ke level 101,774. Hari ini (3/11) warga AS akan menggunakan hak pilih dalam memilih dewan perwakilan rakyat dan senat dalam agenda Midterm Election.
Harga minyak turun tajam setelah adanya optimisme terkait upaya diplomatik yang digelar selama 3 hari pertemuan untuk menghentikan konflik AS dan Israel dengan Iran.
Bursa Eropa memulai perdagangan bulan November di zona negatif, terkait dengan penurunan rating kredit Prancis. Sentimen ini juga tertekan oleh menurunnya data penjualan ritel Jerman yang turun 2%.
Pasar saham Asia ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (2/11). Harapan investor muncul bahwa laporan laba Apple dapat meredakan kekhawatiran capex perusahaan AI. Kabar positif sangat dinantikan setelah kekhawatiran mengenai arus kas negatif dan besarnya belanja modal untuk AI menyebabkan lonjakan biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar perusahaan (credit default swap) pada pekan lalu.
Indonesia Market
IHSG merapat ke zona positif pada perdagangan Senin (2/11), ditutup di level 5.096,83, menguat 0,79%. Nilai transaksi mencapai 11,4 triliun rupiah dengan volume perdagangan sebesar 33,32 miliar saham. Sektor industri dasar menjadi sektor positif dengan kenaikan tertinggi sementara sektor kesehatan ditutup berada di zona negatif.
Indeks Manufaktur PMI Indonesia dirilis naik ke level 54,0 di bulan Oktober dari sebelumnya di 52,4 di bulan September, menandai ekspansi aktivitas pabrik yang terkuat sejak Maret 2024. Sementara itu inflasi tahunan Indonesia berada di level 3,23% di Oktober melandai dari bulan sebelumnya di 3,28%. Data inflasi masih berada dalam target Bank Indonesia.
Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,36 milyar dolar AS di September, menyusut dari bulan Agustus, dengan ekspor dirilis tumbuh 11,87% sementara impor di 18,41%.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Senin (2/11) ditutup di 18.145 per dolar AS. Harga SBN (02/11) bergerak melemah dengan yield tenor 10 tahun naik ke level 7,731%. Hari ini (3/11) Kementerian Keuangan akan mengadakan lelang SBSN dengan target indikatif sebesar 10 triliun rupiah.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.