Gajian sudah masuk. Senang? Pasti.
Tapi beberapa minggu kemudian, saldo rekening mulai menipis. Padahal tidak merasa membeli barang mahal. Hanya ngopi, pesan makanan, belanja karena ada promo, membayar beberapa langganan digital, dan sesekali self-reward. Nominalnya kecil, tetapi kalau dilakukan berulang, jumlahnya bisa cukup besar.
Pernah mengalami hal serupa? Kalau iya, bisa jadi masalahnya bukan semata-mata karena penghasilan yang kurang, tetapi karena kebiasaan kecil dalam mengelola uang yang belum disadari.
Pengeluaran kecil yang tidak diperhatikan dapat membuat uang cepat habis. Sebaliknya, kebiasaan sederhana seperti mengecek transaksi, menunda pembelian, dan menyisihkan uang di awal bulan dapat membantu membangun keuangan yang lebih sehat.
Kabar baiknya, memperbaiki kondisi keuangan tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Mulailah dari kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan secara rutin. Berikut lima rutinitas yang bisa mulai diterapkan.
1. Luangkan 5 Menit untuk Cek Keuangan
Coba ingat, dalam sehari berapa kali kita mengecek pesan atau media sosial? Sekarang, luangkan sekitar lima menit untuk mengecek kondisi keuangan.
Tidak perlu membuat pencatatan yang rumit. Cukup lihat transaksi yang sudah dilakukan dan tanyakan:
- Apa saja pengeluaran hari ini?
- Mana yang merupakan kebutuhan?
- Apakah ada pengeluaran yang sebenarnya bisa ditunda?
Kebiasaan ini membantu mengetahui ke mana uang digunakan sekaligus menemukan pola pengeluaran yang mungkin selama ini tidak disadari.
Bisa jadi bukan satu transaksi besar yang membuat uang cepat habis, melainkan pengeluaran kecil yang dilakukan berulang.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Diskon, cashback, gratis ongkir, dan berbagai promo memang menarik. Namun, harga yang lebih murah bukan berarti barang tersebut harus dibeli. Sebelum melakukan checkout, coba tanyakan:
“Kalau barang ini tidak sedang diskon, apakah saya tetap ingin membelinya?”
Jika jawabannya tidak, mungkin yang menarik bukan kebutuhannya, tetapi promonya.
Bukan berarti semua keinginan harus dihilangkan. Menikmati hasil kerja tetap penting. Namun, pastikan pengeluaran untuk keinginan tidak mengganggu kebutuhan utama dan tujuan keuangan. Untuk pembelian yang tidak mendesak, coba beri jeda 24 jam sebelum memutuskan. Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.
3. Sisihkan Uang di Awal, Bukan Menunggu Sisa
Menabung dari sisa penghasilan sering kali terdengar mudah. Masalahnya, belum tentu ada sisa di akhir bulan. Karena itu, coba ubah kebiasaannya. Begitu menerima penghasilan, sisihkan terlebih dahulu sejumlah dana untuk tabungan, dana darurat, investasi, atau tujuan keuangan lainnya. Setelah itu, gunakan dana yang tersisa untuk kebutuhan dan pengeluaran lainnya.
Nominalnya tidak harus besar. Sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi keuangan masing-masing.Yang penting, menabung dilakukan secara konsisten dan terencana, bukan hanya ketika ada uang yang tersisa.
4. Berikan Batas untuk Pengeluaran Fleksibel
Makan di luar, nongkrong, hiburan, belanja online, hingga self-reward tentu boleh dilakukan. Namun, pengeluaran tersebut tetap perlu memiliki batas. Cobalah menentukan anggaran khusus untuk kebutuhan yang sifatnya fleksibel setiap bulan. Misalnya, tentukan batas untuk hiburan atau makan di luar.
Selama masih berada dalam anggaran, pengeluaran tersebut dapat dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan lainnya. Jika batas sudah tercapai, tahan pengeluaran hingga periode berikutnya. Cara ini bukan berarti harus berhenti menikmati hasil kerja. Justru, kita tetap dapat menikmati uang dengan lebih terencana. Kuncinya bukan menghilangkan kesenangan, tetapi menjaga agar kesenangan tetap berada dalam batas kemampuan.
5. Lakukan Financial Check-Up Setiap Bulan
Selain mengecek transaksi sehari-hari, kondisi keuangan juga perlu dievaluasi secara berkala. Luangkan sekitar 15 s.d 30 menit setiap akhir bulan untuk melakukan financial check-up.
Coba periksa :
- Apakah pengeluaran sesuai dengan rencana?
- Apakah jumlah tabungan bertambah?
- Apakah cicilan masih sesuai kemampuan?
- Apakah ada pengeluaran yang bisa dikurangi?
- Apakah kondisi keuangan masih sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai?
Dari evaluasi tersebut, kita bisa mengetahui kebiasaan mana yang perlu dipertahankan dan mana yang perlu diperbaiki. Tidak perlu menunggu sampai keuangan bermasalah. Semakin rutin dilakukan, semakin cepat kita mengetahui jika ada pengeluaran yang mulai tidak terkendali.
Kebiasaan Sederhana, Dampak yang Berarti
Mengelola keuangan bukan hanya tentang memiliki penghasilan besar. Cara menggunakan dan mengatur penghasilan juga menentukan seberapa sehat kondisi keuangan seseorang.
Mengecek transaksi lima menit, menunda pembelian yang tidak mendesak, menyisihkan uang di awal bulan, memberikan batas pengeluaran, dan melakukan evaluasi rutin mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut dapat membantu membangun pengelolaan keuangan yang lebih teratur.
Keuangan yang sehat juga bukan berarti harus berhenti menikmati hidup. Justru dengan perencanaan yang baik, kita dapat memenuhi kebutuhan hari ini, menikmati hasil kerja, sekaligus mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
Mulai dari Satu Kebiasaan
Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Pilih satu kebiasaan yang paling mudah dilakukan. Misalnya, mulai mengecek transaksi selama lima menit setiap hari. Setelah terbiasa, lanjutkan dengan kebiasaan lainnya. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari pola pengelolaan keuangan sehari-hari.
Keuangan yang lebih sehat tidak selalu dimulai dari penghasilan yang lebih besar, tetapi dari kebiasaan yang lebih baik.
BNI terus berkomitmen mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui edukasi serta solusi layanan keuangan yang membantu masyarakat mengelola keuangan secara bijak. Yuk, mulai lebih sadar mengelola keuangan dari sekarang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah keuangan yang sehat harus memiliki penghasilan besar?
Tidak. Penghasilan memang menjadi salah satu faktor penting, tetapi cara mengelola penghasilan juga berpengaruh. Penghasilan yang besar tetap perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan, tabungan, kewajiban, dan tujuan keuangan dapat berjalan seimbang.
2. Bagaimana jika penghasilan saya terbatas?
Mulailah dengan jumlah yang realistis. Tidak perlu memaksakan nominal tabungan yang terlalu besar hingga mengganggu kebutuhan utama. Yang penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten dan meningkatkan nominalnya secara bertahap ketika kondisi memungkinkan.
3. Apakah semua pengeluaran harus dicatat?
Tidak harus menggunakan metode yang rumit. Yang terpenting adalah memiliki gambaran mengenai pemasukan dan pengeluaran. Catatan sederhana atau riwayat transaksi dapat membantu mengetahui pola penggunaan uang.
4. Bagaimana cara menghindari pembelian impulsif?
Berikan jeda sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Tanyakan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya tertarik karena promo. Untuk pembelian tertentu, menerapkan jeda 24 jam dapat membantu membuat keputusan yang lebih rasional.
5. Apakah self-reward boleh dilakukan?
Boleh. Self-reward dapat menjadi bagian dari menikmati hasil kerja. Namun, tetap tentukan batas anggarannya agar tidak mengganggu kebutuhan utama, tabungan, maupun tujuan keuangan.
6. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan financial check-up?
Evaluasi dapat dilakukan setiap akhir bulan. Luangkan sekitar 15 s.d 30 menit untuk melihat kembali pemasukan, pengeluaran, tabungan, cicilan, dan perkembangan tujuan keuangan.
7. Kebiasaan apa yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu?
Mulailah dari kebiasaan yang paling mudah dilakukan secara konsisten, misalnya mengecek transaksi dan pengeluaran secara rutin. Setelah mengetahui pola pengeluaran, langkah berikutnya akan lebih mudah ditentukan.