News


BNI Sandingkan Pengusaha Indonesia dan Jepang

Siaran Pers

Jakarta, 10 April 2013. PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk atau BNI mengundang dan memfasilitasi pengusaha-pengusaha Jepang asal Provinsi Ehime untuk bertemu dan menjodohkan bisnis mereka dengan para pengusaha Indonesia melalui Diskusi Panel dan Business Matching di Kantor Pusat BNI. Langkah ini merupakan langkah lanjutan yang diupayakan BNI untuk memberikan kontribusi pada peningkatan investasi pengusaha Jepang di Indonesia dan penciptaan lapangan kerja baru di tanah air secara konkret.

Diskusi Panel dan Business Matching antara Pengusaha Ehime, Jepang dengan perusahaan Indonesia itu dilaksanakan di Kantor Pusat BNI, Jalan Sudirman Kav 1, Jakarta, Rabu (10/4/2013).

Diskusi panel ini menghadirkan para pembicara Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Chatib Basri, Gubernur Ehime Prefecture Tokihiro Nakamura, Ketua Prefecture Federation of Societies Commerce & Industry (Kadin) Ehime Shozo Shiraisi, serta Ketua Indonesia-Japan Friendship Association Rahmat Gobel. Hadir sebagai pemandu diskusi ini Chief Economist BNI Ryan Kiryanto.

Usai diskusi panel tersebut, delegasi Jepang yang terdiri atas 14 pengusaha asal Ehime dipertemukan dengan 35 pengusaha Indonesia yang juga nasabah BNI untuk mengeksplorasi potensi kerja sama antar pelaku bisnis secara riil. Selain itu ada juga 20 pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Para pengusaha ini datang dari 19 bidang usaha berbeda, yaitu mesin pertanian; perdagangan komoditas pertanian; kontainer kargo berbahan aluminium dan konstruksi berbahan alumunium; pertanian berbasis air; otomotif; konstruksi; pengadaan barang; kehutanan; pengembang kawasan industri; manufaktur umum; manufaktur paket logam; pembangun pabrik; manufaktur komponen otomotif; pembuat kemasan dari kaleng dan tutup botol; pembuat komponen mesin dan plastik; pabrik baja; minyak dan gas; pipanisasi; dan jasa transportasi.

BNI mempertemukan pengusaha Indonesia dan Jepang yang bergerak pada bidang usaha yang sama dengan harapan akan muncul kerja sama bisnis riil diantara mereka. Kerja sama bisnis tersebut diharapkan menjadi pintu masuk investasi pengusaha Jepang di Indonesia.

Kedatangan para pengusaha Jepang ini merupakan bagian dari serangkaian usaha BNI untuk merealisasikan relokasi pelaku usaha Jepang ke Indonesia. Sebelumnya, BNI sudah bekerjasama dengan PT Suryacipta Swadaya untuk menyediakan lahan seluas 1.400 hektar di Karawang, Jawa Barat untuk investor Jepang yang ingin ekspansi atau merelokasi usahanya. BNI juga telah mengikat komitmen Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memudahkan perijinan pengusaha Jepang yang ingin investasi di Indonesia. Persiapan yang dilakukan BNI itu mendapat respon cepat dari para pengusaha Jepang dengan kesediaan mereka datang ke Jakarta untuk bertemu calon-calon rekan bisnis mereka yang juga nasabah BNI.

Gatot M Suwondo menekankan, investasi pengusaha Jepang ke Indonesia tidak hanya positif secara ekonomi tetapi akan membawa pengaruh dalam mendorong upaya ke arah penciptaan bisnis yang berbasis perlindungan lingkungan atau Green Economic. Sebagai bank terdepan di Indonesia yang mendukung Green Banking, BNI berharap kedatangan pengusaha Jepang ke Indonesia juga akan menjadi langkah terorganisir untuk menciptakan kawasan industri yang menerapkan konsep eco manufacturing dan green technology.

Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan program aksi diantaranya pengurangan secara drastis material tidak ramah lingkungan, penghematan penggunaan bahan bakar fossil sebagai sumber energi, pengembangan industri Recycle, penggunaan lampu hemat energi, hingga penanaman ribuan pohon dalam kawasan industri.

BNI di Jepang

BNI telah membentuk Japan Desk yang khusus memberikan pelayanan lengkap bagi pengusaha Jepang yang ingin merelokasi bisnisnya ke Indonesia, baik pelayanan Banking (produk perbankan) maupun pelayanan non Banking, seperti memberikan nasihat investasi, business matching, membantu perizinan, hingga pencarian kawasan industri.

Saat ini, Japan Desk telah mengkoordinasikan kerja sama BNI dengan 46 Bank Regional di Jepang (JRB), belum termasuk dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Berbagai keuntungan yang dapat dinikmati adalah pertama, nasabah JRB akan mendapatkan jalur informasi mengenai investasi yang sedang berkembang di Indonesia saat ini melalui BNI. Kedua, BKPM mendapatkan potensial Investor dari Jepang. Ketiga, BNI dapat memberikan total financial solution bagi nasabah BNI. Keempat, nasabah JRB juga akan memperoleh prioritas untuk mendapatkan lahan di kawasan industri Suryacipta.

Saat ini, BNI merupakan satu-satunya bank asal Indonesia yang berada di Jepang dengan dua kantor, yakni kantor cabang Tokyo dan kantor pemasaran di Osaka. BNI sudah beroperasi di Tokyo sejak tahun 1959, sedangkan kantor Osaka mulai dibuka pada Februari 2013. Kantor BNI Osaka diaktifkan untuk memaksimalkan pelayanan BNI di kawasan Barat Jepang, termasuk JRB dan nasabahnya yang ada di Ehime Prefecture.

Siaran Pers

Jakarta, 10 April 2013. PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk atau BNI mengundang dan memfasilitasi pengusaha-pengusaha Jepang asal Provinsi Ehime untuk bertemu dan menjodohkan bisnis mereka dengan para pengusaha Indonesia melalui Diskusi Panel dan Business Matching di Kantor Pusat BNI. Langkah ini merupakan langkah lanjutan yang diupayakan BNI untuk memberikan kontribusi pada peningkatan investasi pengusaha Jepang di Indonesia dan penciptaan lapangan kerja baru di tanah air secara konkret.

Diskusi Panel dan Business Matching antara Pengusaha Ehime, Jepang dengan perusahaan Indonesia itu dilaksanakan di Kantor Pusat BNI, Jalan Sudirman Kav 1, Jakarta, Rabu (10/4/2013).

Diskusi panel ini menghadirkan para pembicara Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) M Chatib Basri, Gubernur Ehime Prefecture Tokihiro Nakamura, Ketua Prefecture Federation of Societies Commerce & Industry (Kadin) Ehime Shozo Shiraisi, serta Ketua Indonesia-Japan Friendship Association Rahmat Gobel. Hadir sebagai pemandu diskusi ini Chief Economist BNI Ryan Kiryanto.

Usai diskusi panel tersebut, delegasi Jepang yang terdiri atas 14 pengusaha asal Ehime dipertemukan dengan 35 pengusaha Indonesia yang juga nasabah BNI untuk mengeksplorasi potensi kerja sama antar pelaku bisnis secara riil. Selain itu ada juga 20 pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Para pengusaha ini datang dari 19 bidang usaha berbeda, yaitu mesin pertanian; perdagangan komoditas pertanian; kontainer kargo berbahan aluminium dan konstruksi berbahan alumunium; pertanian berbasis air; otomotif; konstruksi; pengadaan barang; kehutanan; pengembang kawasan industri; manufaktur umum; manufaktur paket logam; pembangun pabrik; manufaktur komponen otomotif; pembuat kemasan dari kaleng dan tutup botol; pembuat komponen mesin dan plastik; pabrik baja; minyak dan gas; pipanisasi; dan jasa transportasi.

BNI mempertemukan pengusaha Indonesia dan Jepang yang bergerak pada bidang usaha yang sama dengan harapan akan muncul kerja sama bisnis riil diantara mereka. Kerja sama bisnis tersebut diharapkan menjadi pintu masuk investasi pengusaha Jepang di Indonesia.

Kedatangan para pengusaha Jepang ini merupakan bagian dari serangkaian usaha BNI untuk merealisasikan relokasi pelaku usaha Jepang ke Indonesia. Sebelumnya, BNI sudah bekerjasama dengan PT Suryacipta Swadaya untuk menyediakan lahan seluas 1.400 hektar di Karawang, Jawa Barat untuk investor Jepang yang ingin ekspansi atau merelokasi usahanya. BNI juga telah mengikat komitmen Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memudahkan perijinan pengusaha Jepang yang ingin investasi di Indonesia. Persiapan yang dilakukan BNI itu mendapat respon cepat dari para pengusaha Jepang dengan kesediaan mereka datang ke Jakarta untuk bertemu calon-calon rekan bisnis mereka yang juga nasabah BNI.

Gatot M Suwondo menekankan, investasi pengusaha Jepang ke Indonesia tidak hanya positif secara ekonomi tetapi akan membawa pengaruh dalam mendorong upaya ke arah penciptaan bisnis yang berbasis perlindungan lingkungan atau Green Economic. Sebagai bank terdepan di Indonesia yang mendukung Green Banking, BNI berharap kedatangan pengusaha Jepang ke Indonesia juga akan menjadi langkah terorganisir untuk menciptakan kawasan industri yang menerapkan konsep eco manufacturing dan green technology.

Langkah yang dapat dilakukan adalah dengan program aksi diantaranya pengurangan secara drastis material tidak ramah lingkungan, penghematan penggunaan bahan bakar fossil sebagai sumber energi, pengembangan industri Recycle, penggunaan lampu hemat energi, hingga penanaman ribuan pohon dalam kawasan industri.

BNI di Jepang

BNI telah membentuk Japan Desk yang khusus memberikan pelayanan lengkap bagi pengusaha Jepang yang ingin merelokasi bisnisnya ke Indonesia, baik pelayanan Banking (produk perbankan) maupun pelayanan non Banking, seperti memberikan nasihat investasi, business matching, membantu perizinan, hingga pencarian kawasan industri.

Saat ini, Japan Desk telah mengkoordinasikan kerja sama BNI dengan 46 Bank Regional di Jepang (JRB), belum termasuk dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Berbagai keuntungan yang dapat dinikmati adalah pertama, nasabah JRB akan mendapatkan jalur informasi mengenai investasi yang sedang berkembang di Indonesia saat ini melalui BNI. Kedua, BKPM mendapatkan potensial Investor dari Jepang. Ketiga, BNI dapat memberikan total financial solution bagi nasabah BNI. Keempat, nasabah JRB juga akan memperoleh prioritas untuk mendapatkan lahan di kawasan industri Suryacipta.

Saat ini, BNI merupakan satu-satunya bank asal Indonesia yang berada di Jepang dengan dua kantor, yakni kantor cabang Tokyo dan kantor pemasaran di Osaka. BNI sudah beroperasi di Tokyo sejak tahun 1959, sedangkan kantor Osaka mulai dibuka pada Februari 2013. Kantor BNI Osaka diaktifkan untuk memaksimalkan pelayanan BNI di kawasan Barat Jepang, termasuk JRB dan nasabahnya yang ada di Ehime Prefecture.

Related

News Archive